Sabtu, 05 Mei 2012

Ajaran Zuhud Sufyan al-Tsauri

AKHLAK TASAWUF Ajaran Zuhud Sufyan al-Tsauri dan Relevansinya Pada masa sekarang Oleh : Sayyidah 109011000226 JURUSANN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Islam mengajarkan zuhud sebagai salah satu pilar akhlak mulia. Sepanjang lintasan sejarah, islam memiliki pribadi zuhud teladan yang mengagumkan kawan maupun lawan. Mereka hidup zuhud di masanya. Namun, zuhud mereka mampu mendidik dan memberi contoh kepada kita perihal ketaatan beribadah, hidup sederhana, penuaian amanah, latihan menguasai syahwat, jiwa tafaqquh fid-din, optimalisasi diri untuk membela umat,perasaan pantang menyerah, tak mudah tergoda perhiasan dunia, kerinduan berjumpa dengan Allah swt, dan mendapat surga-Nya, kecintaan kepada kaum yang miskin dan lemah, dan sebagainya. Setiap pribadi muslim untuk menata kembali jati diri mereka yang paling hakiki. Ia memaparkan nilai-nilai zuhud yang dicontohkan para rasul, sahabat, tabi’in, dan tabi’in-tabi’in sebagai pelajaran yang mudah dicerna dan dihidupkan dalam keseharian kita. Sufyan Al-tsuari mencari ilmu sejak kanak-kanak, dan telah menjadi guru saat masuk muda belia. Dia melihat bala sebagai nikmat dan kemapanan sebagai musibah. Dia adalah Sufyan bin Said bin Masruq ats-Tsauri, alim umat ini, syaikhul islam, imam para hafidz, junjungan ulama, Amirul Mu’minin dalam bidang hadist, unggul di zamannya dari segi ilmu dan keutamaan. Sebagai seorang sufi, sufyan al-tsuari juga sangat tekun menjalankan kehidupan zuhud, seperti sikap gurunya. Kesungguhan bekerja sangat menonjol untuk menghidupi diri dan keluarganya dengan cara berdagang keliling, tetapi puasa dan ibadahnya di siang dan malam tetap dijalankan. Begitu juga kepedulian sosialnya sangat tinggi, terbukti dengan selalu menyisihkan hasil dagangannya, untuk menghidupi fakir-miskin dan orang-orang yang terlantar. Batasan Masalah 1. Biografi Sufyan Al-Tsauri 2. Pengertian Zuhud 3. Relevansinya dalam kehidupan sekarang BAB II PEMBAHASAN A. Biografi Sufyan Al-Tsauri Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Sufyan bin Said bin Masruq Al-Tsuari al-Kuffi. Dia dilahirkan di Kufah pada tahun 97 H/715 M. , dan meninggal dunia di Basrah pada tahun 161 H/778 M. Dia adalah seorang tabi’in pilihan dan seorang zahid yang jarang ada tandingannya, bahkan merupakan seorang ulama hadist yang termasyhur, sehingga di dalam meriwayatkan hadist, dia di beri gelr Amirul Mu’minin di dalam hal hadist. Dia adalah salah seorang ulama mujtahidin. Menurut riwayat, Abu al-Qasim al-Junaid adalah salah seorang pengikut beliau. Mula-mula Sufyan al-Tsauri mendapatkan ilmu dari bapaknya sendiri, kemudian dia berguru kepada sejumlah orang pandai di masanya, kemudian dia menjadi seorang ahli dalam bidang hadist dan teologi. Pada tahun 158 H/715 M. dia menantang beberapa pejabat pemerintah, akibatnya kehidupannya terancam dan dia menyembunyikan diri di kota Mekkah. Dia menjalani kehidupan kesufian dengan disiplin yang ketat sehingga para sufi menyebutnya sebagai seorang manusia suci. Sufyan al-Tsuari sempat berguru kepada sufi terkenal Hasan al-Basri, sehingga fatwa-fatwa gurunya tersebut banyak mempengaruhi jalan hidupnya. Oleh karena itu, kehidupan kesufiannya menjurus kepada kehidupan sangat bersahaja, penuh kesederhanaan,tidak terpesona pada kemegahan duniawi. Dia menyampaikan ajaran agama kepada sejumlah murid-muridnya agar jangan terpengaruh oleh kemewahan dan kemegahan duniawi, jangan suka menjilat kepada penguasa, muru’ah harus dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya, dan tidak boleh terjadi mengemis kepada para penguasa. Sufyan al-Tsuari termasuk salah seorang zahid yang pemberani, tidak segan-segan dia mengetengahkan kritik terhadap penguasa yang selalu bergelimang dengan kemewahan kehidupan duniawi, hidup berfoya-foya dengan harta kekayaan negara yang berlimpah didapatkan dari hasil ekspansi dan kemajuan ekonomi negara Islam, sedangkan di sisi lain masih banyak rakyat yang kehidupannya tergolong melarat. Dalam suatu kesempatan Sufyan al-Tsuari menasehatkan agar umat Islam jangan sampai merusak agamanya. Sikap zuhudnyaterlukis dalam kerendahan hatinya dan ketidakpeduliannya terhadap kemewahan duniawi, dia pernah melarikan diri dari khalifah Al-Mahdi ketika khalifah itu hendak mengangkatnya sebagai Hakim Agung. Iajuga seorang penyayang sesama makhluk. B. Pengertian Zuhud Secara etimologis, zuhud berarti ragaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah. Orang yang melakukan zuhud disebut zahid, zuhdad atau zahidun. Zahidah jamaknya zuhdan, artinya kecil atau sedikit. Adapun zuhud secara terminologis, Az-zuhud merupakan ungkapan tentang pengalihan keinginan dari sesuatu kepada sesuatu lain yang lebih baik darinya. Syarat sesuatu yang tidak disukai haruslah berupa sesuatu yang memang tidak disukai dengan pertimbangan tertentu. Siapa yang tidak menyukai sesuatu yang bukan termasuk hal yang disenangi dan dicari jiwanya, tidak harus disebut orang zuhud, seperti orang yang tidak pernah memakan tanah, yan g tidak dapat disebut orang zuhud. jadi zuhud itu bukan sekedar meninggalkan hahrta dan mengeluarkannya dengan suka rela, ketika badan kuat da nada kecendrungan hati kepadanya. tapi zuhud ialah meninggalkan dunia karena didasarkan pengetahuan tentang kehinannya jika dibandingkan dengan nilai akhirat. Pembagian zuhud, Tingkatan dan Hukumnya, Menurut Ibnu Qayyim, zuhud itu ada beberapa macam, yaitu : 1. Zuhud dalam hal yang haram, yang hukumnya fardhu ‘ain 2. Zuhud yang dalam hal syubhat, tergantung kepada tingkatan-tingkatan syubhat. Jika syubhat itu lebih kuat, ia lebih dicondongkan kepada hokum wajib, dan jika melemah, ia dicondongkan kepada sunat 3. Zuhud dalam hal-hal yang berlebih, zuhud dalam hal-hal yang tidak dibutuhkan, berupa perkataan, pandangan, pertanyaan, pertemuan dan lain sebagainya, zuhud ditengah manusia, zuhud terhadap diri sendiri, sehingga dia menggap diri sendiri hina karena Allah. 4. Zuhud yang menghimpun semua itu, yaitu zuhud dalam perkara selain Allah dan segala hal yang tidak membuatmu masyghul olehnya. Zuhud yang paling baik adalah menyembunyikan zuhud itu sendiri dan zuhud yang paling berat ialah zuhud dalam perkara yang menjadi bagian diri sendiri. Sejalan dengan itu, Al-Junuaidi mengatakan bahwa zuhud ialah kosongnya tangan dari pemilikan dan kosongnya hati dari pencarian(mencari sesuatu). Dalam kondisi ini zahid merasa tidak memiliki dan dimiliki oleh sesuatu. Dengan demikian zuhud dibedakan dengan faqr yang mengandung arti tidak adanya sesuatu yang mengandung arti tidak adanya sesuatu yang dibutuhkan. Zuhud disini adalah menjauhkan diri dari kelezatan dunia. zuhud sebagai moral(akhlak) Islam, yaitu sikap hidup yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim dalam menata dunia fana’ ini. Dunia dipandang sebagai sarana ibadah dan untuk meraih keridhaan Allah swt, bukan tujuan hidup. C. Relevansinya dalam kehidupan sekarang Islam diturunkan sebagai rahmatan lil alamin, diturunkan dalam konteks zamannya untuk memecahkan problema kemasyarakatan pada masa itu. Konteks dan latar belakang perjuangan Rasulullah saw. Pada masa sekarang harus dipahami dalam konteksnya yang tepat, yaitu pemahaman yang mondar-mandir,memasukkan konteks kekinian ke masa diturunkan al-qur’an, dan kembali lagi ke masa kini. Pemahaman ini akan menjamin aktualisasi dan kemampuan Islam menjawab tantangan zaman sepanjang sejarah. Selanjutnya bagaimana zuhud sebagai upaya pembentukan sikap terhadap dunia di masa modern seperti ini. Untuk mengungkap hal ini, bagaimana sebenarnya masyarakat modern itu. ‘Ata’ Muzhar, menyatakan bahwa masyarakat modern di tandai oleh 5 hal, yakni : pertama, berkembangnya mass culture karena pengaruh kemajuan mass media sehingga kultur tidak lagi bersifat lokal, melainkan nasional atau bahkan global. Kedua, tumbuhnya sikap-sikap yang lebih mengakui kebebasan manusia menuju perubahan masa depan. Dengan demikian manusia merasa lebih leluasa kalau bukan lebih berkuasa. Ketiga, tumbuhnya berpikir rasional, sebagian besar kehidupan umat manusia ini semakin diatur oleh aturan-aturan rasional. Keempat, tumbuhnya sikap hidup yang materialistic, artinya semua hal diukur oleh nilai kebendaan dan ekonomi. Kelima, meningkatnya lajur urbanisasi. Untuk menjadi zuhud dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, bukanlah hal yang mudah. Kemilau dan gemerlap dunia seringkali membutakan hati manusia. Pangkat dan kedudukan sering kali membuat manusia lupa daratan. Persaingan hidup yang keras seringakali membuat manusia lupa daratan. Persaingan hidup yang keras seringkali membuat orang membuat orang kehilangan masa malu dan tak lagi punya rasa kasih sayang. Harta kekayaan yang menumpuk seringkali tidak menjadikan manusia sadar dan mempergunakannya di jalan kebenaran, tapi justru membuaut mereka kikir dan mentasarufkannya ke jalan kesesatan yang ditunjukkan oleh iblis yang terkutuk dan terlaknat. Faham materialism telah menjangkiti hamper seluruh manusia di permukaan bumi ini. Banyak dari mereka yang melupakan Allah, karena terlena memburu kesenangan dunia yang sesaat. Sulit sekali dalam kehidupan yang hedonistik sekarang ini, menemukan orang-orang yang murah hati dan pandai bersyukur atas segala nikmat, anugrah dan karunia yang telah diberikan oleh Allah swt. Sulit dalam kehidupan materialis sekarang ini menemukan oaring-orang yang zuhud dan mempunyai mentalitas yang tangguh. Oleh karna itu, marilah kita mengupayakan hidup zuhud dengan tujuh sikap utama, yang meliputi : 1. Memiliki sifat malu, santun dan sayang. Lihatlah tingkah pola manusia yang ada disekitar kita. Betapa kebanyakan manusia sudah kehilangan rasa malu.  Mencuri milik orang lain, tak lagi malu  Berselingkuh dengan suami atau istri orang, bukan lagi tabu. tak punya malu  Menilap uang teman, tetangga, bahkan keluarga sendiri, sungguh tak tahu malu  Menggelapkan dana bantuan untuk para korban banjir, gempa bumi, sungguh tak punya malu. Sungguh rasa malu, hampir musnah dari diri setiap orang. Renungkanlah sabda Rasulullah saw : اَلْحَيَـاءُ مِنَ الاِْيْمَـانِ Malu adalah sebagian dari iman. Orang yang zuhud akan malu melakukan kehinaan dan kekejian, karena ia merasa dekat dan selalu diawasi oleh Allah, bahkan ia merasakan Allah itu lebih dekat dari urat nadinya sendiri. 2. Takut berbuat dosa. Orang yang zuhud akan takut untuk untuk melakukan perbuatan dosa, karena ia berkeyakinan bahwaperbuatan dosa akan menjauhkan mereka dari Allah. Dan penyesalan terbesar orang yang zuhud adalah bila ia merasa jauh dan ditinggalkan oleh Allah SWT. Dan senantiasa merasa takut untuk berbuat dosa dan maksiat kepda Allah, karena ia takut mendapatkan murka dari Allah kelak di hari pembalasan. Ia akan berpegang teguh kepada firman Allah dalam surat Al-An’am 15 : قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ Artinya : Katakanlah : “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar(hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku. ” 3. Yakin akan kehidupan akhirat. Orang yang zuhud yakin akan kehidupan akhirat. Ia akan menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan akhiratnya, dan menjadikan kehidupan dunia hanyalah sarana untuk mencapai kebahagiaan kehidupan akhirat. 4. Mencintai dunia hanya sekedarnya Orang yang zuhud hanya akan mencintai dunia dan mengambil keperluan darinya sekedarnya saja. Ia tidak akan menjadikan dunia sebagai tujuan hidup, melainkan hanya sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat. Mereka menghayati betul firman Allah dalam surat Al Imran 185 : وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ Artinya : “kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memberdayakan. ” Orang yang zuhud tidak akan pernah tertipu oleh kemilau dan gemerlap kehidupan dunia, karena hatinya selalu terpaut dengan Allah dan kehidupan akherat. 5. Memiliki sifat pemurah Orang yang zuhud tidak akan terlalu cinta kepada kehidupan dunia. Ia mencintai harta bendanya sekedarnya saja. Karna itu orang yang zuhud tidak mungkin memiliki sifat bahil dan kikir. Ia tidak berat mensedekahkan hartanya ke jalan Allah. Ia berpegang teguh kepada firman Allah dalan surat Al – Munafiqun 10 : وَأَنفِقُوا مِن مَّارَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ Artinya : “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian. ” Oleh karna itu, hiasilah diri kalian dengan sifat pemurah, karna sifat pemurah itu mengantarkan kalian pada keluhuran dan kemulian. 6. Mempunyai sikap rendah hati, meskipun berpangkat. Orang yang zuhud akan senantiasa bersikap rendah hati, tidak angkuh, sombong, dan takabur. Ia menyadari betul bahwa kesombongan adalah senjata setan untuk merenhkan derajat manusia. Renungkanlah firman Allah dalam surat Al-Isro: 37 وَلاَتَمْشِ فِي اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ اْلأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً Artinya : Dan Janganlah kamu berjalan dimuka bumi ini dengan sombong, karna sesungguhnya kamu sekali-kalitidak dapat menebus bumi san sekali-kali tidak akan sampai setinggi gunung. Hiasilah diri kalian dengan sifat santun san rendah hati pasti engkau akan menjadi orang yang terkasih , baik di hadapan Allah maupun sesana manusia. 7. Senantiasa sabar dan bersyukur kepada Allah. Orang yang zuhud akan senantiasa bersabar atas segala musibah dan cobaan yang datang dari Allah. Ia akan senantiasa menghiasi diri dengan T-7, yaitu : Tenang, tahan, tabah, tekun, teliti, tanggulangi dan tawakal kepada Allah dalam menghadapi berbagai ujian yang datang dari-Nya. Ia akan memperaktikkan pola hidup sabar dalam hidup dan kehidupan. Tanamkan dan hiaskan kesabaran dalam diri kita, pasti kita akan sukses dan beruntung. Renungkanlah firman Allah dalam surat Al-Imron 200 : يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. KESIMPULAN Perkembangan pemikiran dalam Islam menyebabkan dikenalnya para tokoh sufi dengan pemikirannya yang cemerlang. Berbagai ajaran mereka memainkan peranan penting dalam sejarah umat Islam serta berpengaruh kuat di kalangan umat Islam sampai saat ini. Dengan keluasan agama mereka, keshalihan dan sikap hidup mereka yang diliputi kezuhudan, membuat para pengagum mereka tertarik untuk mengikuti dan meneladaninya. Ajaran yang mereka sampaikan menjadi pelita hati dan penerang jiwa bagi pengikutnya dalam rangka mendekatkan diri mereka kepada Tuhan. Relevansinya dalam kehidupan sekarang, Untuk menjadi zuhud dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, bukanlah hal yang mudah. Oleh karna itu, marilah kita mengupayakan hidup zuhud dengan tujuh sikap utama, yang meliputi: • Memiliki sifat malu, santun dan sayang • Takut berbuat dosa. • Yakin akan kehidupan akhirat. • Mencintai dunia hanya sekedarnya • Memiliki sifat pemurah • Mempunyai sikap rendah hati, meskipun berpangkat • Senantiasa sabar dan bersyukur kepada Allah DAFTAR PUSTAKA El-Sulthani, Labay, Mawardi, 2003, Zuhud di zaman Modern, Jakarta : Al-MAWARDI PRIMA Syukur, Amin, 1997, Zuhud si Abad Modern, Yogyakarta : PUSTAKA BELAJAR Isa, Ahmadi, Haji, 2000, TOKOH-TOKOH SUFI, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Hambal, Ahmad, Imam, 2000, ZUHUD,Jakarta : DARUL FALLAH Al-Minsyawi, Shiddiq, Muhammad, 2007, 100 Tokoh Zuhud,Jakarta : Senayan Abadi Publishing Majuddin, Haji, 2010, AKHLAQ TASAWUF II, Jakarta : KALAM MULIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar