Sabtu, 05 Mei 2012

AJARAN ZUHUD HASAN AL-BASHRI

TUGAS UTS MAKALAH INDIVIDU “AJARAN ZUHUD HASAN AL-BASHRI DAN RELEVANSI PADA KEHIDUPAN SEKARANG Disusun Oleh : SHIDIQ ANSHORI 109011000274 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDYATULLAH JAKARTA 2012 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Banyak pendapat yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari luar Islam dan mengalir masuk kedalam Islam. Banyak penulis yang mengatakan tasawuf berasal dari Kristen, Hindu, atau bahkan dari Budha. Lepas dari pendapat ada tidaknya pengaruh dari agama lain, yang jelasdalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang memicu timbulnya tasawuf. Misalnyadalam surat Al-Baqarah ayat 186:                     Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,maka bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonanorang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku“. Sedangkan tokoh tasawuf sendiri banyak jumlahnya mulai dari generasi tabi’in sampai generasi neo sufisme. Dalam makalah ini akan dibahas tentangseorang tokoh tasawuf generasi tabi’in yakni Hasan Al-Basri. B. Rumusan Masalah Dari studi tokoh Hasan Al-Basri ini maka dapat dirumuskan beberapa masalah,yaitu: 1. Biografi 2. Pemikiran Tasawuf 3. Corak Pemikiran Tasawuf 4. Karya-karya BAB II PEMBAHASAN A. Riwayat Hidup Hasan al-Basri (642 - 728 atau 737); bahasa Arab:حسن البسری ; Abu Sa'id al-Hasan ibn Abi-l-Hasan Yasar al-Basri) ialah ahli teologiArab terkenal dan Cendekiawan Muslim. Hassan al-Basri dilahirkan di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khattab pada tahun 21 Hijrah (642 Masihi). Beliau pernah menyusu dengan Ummu Salamah, isteri Rasulullah S.A.W. Hassan al-Basri juga pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasulullah S.A.W. sehingga beliau muncul sebagai Ulama terkemuka dalam peradapan Islam. Karena beliau hidup di zaman sahabat, sehingga beliau bias berjumpa dengan 70 orang pejuang perang badar dan 300 orang sahabat Nabi. Keuntungan bagi beliau karena, bisa belajar ilmu tafsir, fikih, hadits, sehingga Al-Hasan dalam waktu singkat mampu meriwayatkan hadits dari Ustman bin Affan, Ali bin Abi thalib, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Annas bin Malik dan sahabat Rosulullah lainnya. Pada usia 14 tahun hasan pindah bersama orang tuanya pindah ke Bashrah, tempat yang membuatnya masyhur dengan nama Hasan Al-Bashri. Al-Bashri sangat mengaggumi Ali bin Abi Thalib, Karena keluasan ilmu, kezuhudan dan kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah. Suatu ketika Ali berkata: ”Hasan, aku ingin bertanya kepadamu tentang dua perkara. Jika engkau bisa menjawabnya engkau bisa mengikuti pengajianku”. Hasan terdiam lalu berkata: ”Tanyalah wahai Amirul Mukminin” Lalu Ali berkata: ”Ceritakan kepadaku tentang kebaikan agama dan yang merusak agama”. Hasan menjawab: ”Kebaikan agama adalah warak dan yang merusak agama adalah tamak”. Ali tersenyum dan berkata: ”Engkau benar dan sekarang teruskanlah pengajianmu”. Al-Basri juga sering mendapat pujian terutama dari Anas bin Malik sehingga,pernahketika orang dating menanyakan sesuatu,beliau menyuruh orang itu datang kepada HasanAl-Basri. Abu Qatadah pernah berkata: ”Bergurulah kepada syekh ini, saya sudah menyaksikan sendiri, tidak ada seorang tabi’in yang menyerupai sahabat nabi kecuali beliau ini”. Hassan al-Basri telah meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari juma’at 5 Rejab 110 Hijrah (728 Masihi), pada umur 89 tahun. Beliau pernah hidup pada zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik b. Marwan. B. Pemikiran Tasawuf Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tasawuf dari Hudzaifah bin Yaman, yang ajarannya sangat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. kemudian beliau dikenal sebagai Ulama Sufi dan juga Zuhud . Tentang kelebihan dan keutamaan Hasan Al-Basri, Abu Qatadah mengatakan,” Bergurulah kepada Syekh ini. Saya sudah menyaksikan sendiri, tidak ada seorang tabi’in yang menyerupai sahabat nabi kecuali beliau ini.” Dasar pendirian beliau adalah Zuhud, Khauf, Raja’. Zuhud adalah meninggalkan dunia dan hidup kematerian, tidak saja dari yang haram tapi juga dari yang halal. Sikap zuhudnya dipicu oleh sikap khalifah Bani Umayah yang hidup bermewah-mewahan.sehingga beliau menjauhkan diri dari hal-hal tersebut. Hiburan baginya adalah mendekatkan diri pada Tuhan. Tentang Zuhud ini Hasan Al-Basri mengatakan: “jauhilah dunia ini, karena ia seperti ular, mulus pada perasaantangan tetapi racunnya membunuh”. Khauf artinya merasa takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada masa yang akan datang. Jika seseorang menemui Hasan Al-Basri dia pasti akan mengira Hasan sedang ditimpa suatu musibah. Hal ini adalah karena rasa takutnya, sehingga ada anekdot yang mengatakan: ”Ketika dia memikirkan kematian, dia berpikir bahwa neraka hanya dibuat untuk dirinya sendiri”. Dalam perkara ini beliau pernah berkata: ” Bagaimana kita tidak takut, jika seluruh kehidupan ini akan dipertanggung jawabkan, sedangkan kehidupan itu sendiri amat pendek dan dibatasi maut yang akan menjemput”. Raja’ artinya pengharapan akan ampunan dan karunia Allah.ajaran beliau ini bisa dilihat dari ucapan beliau,”Aku Zahid terhadap dunia ini karena aku ingin dan rindu pada akhirat. Juallah hidup duniamu untuk memperoleh hidup akhirat, pasti keduanya engkau peroleh. Tetapi jangan engkau jual hidup akhiratmu untuk memperoleh hidup dunia, pasti keduanya akan lenyap dari tanganmu”. Contoh khauf dan raja’ dalam kehidupan sehari-hari misalnya, ketika shalat pastilah kita melakukannya bukan karena cinta Allah, melainkan karena kita khauf (takut) akan sesuatu yang tidak diinginkan pada masa yang akan datang (neraka).Disisi lain kita melakukan shalat karena dilandasi oleh alasan lain, yaitu mengharap(raja’) agar amal kita diterima oleh Allah sekaligus mendapat surga-Nya. Beberapa butir ajaran beliau adalah sebagai berikut : “Perasaan takutmu sehingga bertemu dengan hati tenteram, lebih baik dari pada perasaan tenterammu yang kemudiannya menimbulkan rasa takut”. “Dunia adalah negeri tempat beramal. Barang siapa yang bertemu dengan duniadalam rasa benci kepadanya dan zuhud, akan berbahagialah dia dan berolehmanfaat dalam persahabatan itu. Tetapi barang siapa yang tinggal dalam, laluhatinya rindu dan perasaan tersangkut kepadanya akhirnya dia akan sengsara.Dia akan terbawa kepada suatu masa yang tidak dideritanya”. Pesannya tentang tafakkur , ”Tafakkur membawa kita kepada kebaikan dan berusaha mengerjakannya. Menyesal atas perbuatan jahat, membawa kepadameninggalkannya. Barang yang fana walaupun bagaimana banyaknya tidaklah dapat menyamai barang yang baqa’ walaupun sedikit. Awasilah dirimu darinegeri yang cepat datang dan cepat pergi ini dan penuh dengan tipuan”. “Banyak duka-cita di dunia memperteguh semangat amal saleh”. Tentang duka-cita beliau berkata, ”Patutlah orang insyaf bahwa mati sedang mengancamnya, kiamat menagih janjinya dan dia mesti berdiri dihadapan Allahakan dihitung”. C. Corak Pemikiran Orientasi tasawuf Hasan Al-Basri adalah kepada pembentukan akhlak yang mulia dalam mencari hakikat kebenaran, mewujudkan manusia yang mengenal dan dekat dengan Allah. Teori nya sederhana,mudah dipahami dan tidak dimasuki unsur filsafat. Sehingga dapat disimpulkan, beliau termasuk tokoh tasawuf salafi. D. Karya-karya Beliau tidak mempunyai karya tulisan, tetapi fragmen ceramah beliau menjadi perhatian dalam kitab: Qut Al-Qulub karya Abu Thalib Al-Makki, Tabayat Al-Kubra karya Al-Sya’rani dan Hilyah Al-Auliya karya Abu Nu’aim. E. Relevansi Kehidupan Sekarang Relevansi tasawuf dengan problem manusia modern adalah karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syari’ah sekaligus. Ia bisa difahami sebagai pembentuk tingkah laku melalui pendekatan Tasawuf suluky, dan bisa memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan Tasawuf falsafy. Ia bisa diamalkan oleh setiap muslim, dari lapisan sosial manapun dan di tempat manapun. Secara fisik mereka menghadap satu arah, yatiu Ka’bah, dan secara rohaniah mereka berlomba lomba menempuh jalan (tarekat) melewati ahwal dan maqam menuju kepada Tuhan yang Satu, Allah SWT. Tasawuf adalah kebudayaan Islam, oleh karena itu budaya setempat juga mewarnai corak Tasawuf sehingga dikenal banyak aliran dan tarekat.Telah disebut di muka bahwa ber-tasawuf artinya mematikan nafsu dirinya untuk menjadi Diri yang sebenarnya. Jadi dalam kajian Tasawuf, nafs difahami sebagai nafsu, yakni tempat pada diri seseorang dimana sifat-sifat tercela berkumpul, Al Ashlu Al Jami` Li As Sifat Al Mazmumah Min Al Insan. Nafs juga dibahas dalam kajian Psikologi dan juga filsafat. Dalam upaya memelihara agar tidak keluar dari koridor Al-Qur’an maka baik Tasawuf maupun Psikologi (Islam) perlu selalu menggali konsep nafs (dan manusia) menurut Al-Qur’an dan hadis. BAB III KESIMPULAN Setelah kita membahas panjang lebar tentang Hasan Al-Basri dapat disimpulkan: 1. Biografi Beliau lahir pada 21 H, ketika banyak sahabat yang masih hidup sehingga beliau banyak belajar ilmu tafsir, fikih, sastra dan dapat meriwayatkan hadits nabi. Beliau meninggal pada 110H. 2. Pemikiran tasawuf Pemikiran tasawuf beliau adalah zuhud dengan dilandasi oleh rasa takut (khauf)dan pengharapan (raja’) 3. Corak pemikiran tasawuf Corak pemikiran tasawuf beliau adalah tasawuf salafi. 4. Karya-karya Beliau tidak mempunyai karya tulisan, tetapi fragmen ceramah beliau menjadi perhatian dalam kitab : Qut Al-Qulub karya Abu Thalib Al-Makki, Tabayat Al-Kubra karya Al-Sya’rani dan Hilyah Al-Auliya karya Abu Nu’aim. DAFTAR PUSTAKA Al-qur’an dan terjemahannya, Bandung: CV. Penerbit J-Art. Riwayat hidup Hasan al-Basri diberikan dalam Kamus Biografi Imam Nawawi (ed. F. Wüstenfeld, Göttingen, 1842-1847). Hamka, 1984. Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya , Jakarta; Pustaka Panjimas. Drs. H. A. Mustofa. Akhlak Tasawuf. Pustaka Setia Bandung. cet IV ms.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Basri#Biografi Anwar, Rosihon, dan Solihin, Mukhtar M.Ag, Kamus Tasawuf. Remaja Rosdakarya, Bandung 2002. Jamil, HM, 2004. Cakrawala Tasawuf , Tangerang: GP Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar