Sabtu, 05 Mei 2012

TUJUAN DAN EKSISTENSI TASAWUF DALAM ISLAM

AKHLAK TASAWUF “TUJUAN DAN EKSISTENSI TASAWUF DALAM ISLAM” (Makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf) Disusun oleh: NURASIAH 109011000251 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012 BAB I PENDAHULUAN Akhlak memiliki peranan penting bagi perjalanan hidup manusia, dimanaakhlak merupakan salah satu khazanah intelektual muslim yang kehadirannyahingga kini makin dirasakan dan memandu perjalanan hidup manusia agarselamat di dunia dan akhirat. Tidak berlebihan jika misi utama kerasulanMuhammad SAW. adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia, dan sejarahmencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau antara lainadalah akhlaknya yang mulia.Maka kajian tasawuf sangat dibutuhkan untuk merespon dan memprediksimasa depan tasawuf, dalam makalah ini akan dibahas tentang pengertianakhlak, pengertian tasawuf, dasar-dasar tasawuf dalam al-Qur’an dan hadis.Kajian ini setidaknya memberikan pandangan objektif terhadap tasawuf. Jikaberbicara tentang pengertian tasawuf akan ditemukan banyak sekalipengertian yang berbeda-beda dikalangan para ulama. Secara singkat bahwailmu tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha membersihkan diri, berjuangmemerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan ma’rifat menujukeabadian, serta berpegang teguh pada janji Allah dan mengikuti syariatRasulullah dalam mendekatkan diri dan mencapai keridlaan-Nya. BAB II PEMBAHASAN 1. TUJUAN TASAWUF Sebelum kita membaha tujuan tasawuf lebih dahulu kita akan membicarakan pengertian tasawuf. Tasawuf disebut juga mistisme Islam dan sufisme oleh orientalis Barat. Istilah “sufisme” dalam orientalis Barat khusus dipakai untuk mistisme Islam. Istilah sufisme tidak dipakai untuk mistisme yang terdapat dalam agama-agama lain. Tasawuf atau sufisme sebagaimana halnya dengan mistisme di luar Islam mempunyai tujuan untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Intisari dari mistisme, termasuk di dalamnya sufisme, ialah kesadaran akan adanya kamunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi atau uzlah. Tasawuf merupakan suatu Ilmu pengetahuan yang mempelajari cara dan jalan seorang muslim dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Kemudian kata “tasawuf “ berasal dari kata “sufi”. Menurut sejarah, orang yang pertama kali memakai kata “sufi” adalah orang zahid atau asketis adalah Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w.150 H) Adapun mengenai asal atau etimologi “sufi”, menurut Harun Nasution ada beberapa pendapat : a. Ahl al-Suffah b. Shaf c. Shufi d. Sophos e. Shuf Dalam buku Dr. Mustafa Zahri tujuan tasawuf adalah “Fana”, untuk mencapai makrifatullah yaitu leburnya pribadi pada kebaqaan Allah dalam keadaan “Hulul” dimana perasaan keinsanan lenyap rasa ketuhanan dalam keadaan mana semua rahasia yang membatasi diri dengan Allah menjadi satu dalam baqanya bersatu Abid dan Ma’bud dimana seseorang telah sampai kepada apa yang dikatakan Fanaa, secara filosofis : fana ialah meniadakan diri supaya “ada”. Dengan jalan tasawuf, seorang dapat mengenal Tuhan dengan merasakan adanya, tidak sekedar mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Adapun tujuan terakhir tasawuf ialah Ma’rifat yaitu puncak dari segala-galanya. Yang pada tingkat mana saling dapat merasakan Tuhan untuk siapa dipersembahkan segala amal dan ibadah itu. Ma’rifat billah adalah melihat tuhan dengan hati mereka secara jelas dan nyata dengan segala kenikmatandan kebesaran-Nya., tapi tidak dengan kaifiat. Artinya Tuhan digambarkan seperti benda atau manusia ataupun yang lain dengan ketentuan bentuk dan rupa sebagai jawaban kaifa (bagaimana Dzat Tuhan itu?). jadi intinya ma’rifah adalah suatu pemberian tuhan pada hati yang bersih dan dapat menghilangkan tabir yang memisahkan antara makhluk dan khaliq. Ma’rifah billah ini adalah tujuan utama dan merupakan kelezatan yang paling tinggi menurut pengakuan Imam Al-Ghazali dimana beliau mengatakan sebagai berikut : “kelezatan mengenal Tuhan dan melihat keindahan keTuhanan dan melihat rahasia-rahasia keTuhanan adalah lebih lezat dari derajat kepemimpinan yang merupakan puncak dari kelezatan-kelezatan yang ada pada makhluk”. Kiranya sangat sulit menggambarkan dengan lisan atau tulisan dan kebesaran nikmat, lezat dan bahagianya orang yang telah sampai pada ma’rifah pada Tuhan Maha Esa, setelah tersingkapnya hijab yang mengahalang-halangi antara khaliq dan makhluk. Ma’rifah billah selain merupakan kelezatan yang besar bagi kaum muttashawwifin juga menyebabkan adanya sifat malu dan mengagungkan pada Tuhan sebagai mana tauhid menyebabkan ridho dan menyerahkan diri kepada Allah. Dapat disimpulkan, bahwa : a. Ma’rifah billah bias dikasat (diusahakan) dengan melalui beberapa tingkatan. b. Ma’rifah billah dicapai dengan adanya nur yang dianugrahkan Allah kedalam hati yang bersih sesudah hamba itu terlepas dari belenggu nafsu dan kotoran maksiat, jadi sekali-kali tidak dicapai dengan panca indra. Tujuan tasawuf berikutnya adalah tercapainya martabat dan derajat kesempurnaan (insan kamil). Manusia yang sudah mengenal dirinya sendiri, keberdaannya akan memiliki sifat-sifat utama. Menurut Iqbal Derajat insan kamil dapat dicapai dengan menumbuhkan sifat-sifat Tuhan pada diri manusia. Maka semakin sempurna sifat-sifat Allah pada dirinya, semakin membaik pribadinya dan makin kuat hikmahnya. Sedangkan menurut Al-Ghazali tekannya pada penuh harapan memperoleh rahmat Allah dengan dapat mencapai ma’rifah billah melalui latihan bertingkat yang disebut mukorobah dan muhasabah. Dengan kata lain, mencapai ma’rifah billah lewat pencucian diri dari segala dosa dan menekunkan diri dengan ibadat. Dari berbagai pendapat tentang insane kamil di atas, bisa diambil pengertian yang sederhana. Bahwa, insan kamil ialah manusia yang berjiwa sempurna yang dekat di sisi Allah, ia sudah dianggap layak member petunjuk dan menyempurnakan hamba Allah, ia kembali kepada Allah, dan ilmunya dari Allah ruju ilallah, ilmuhu min indillah. Adapun 7 tujuan inti satawuf terdiri dari : a. Safar – perjalanan, fadhilah dan manfaat senantiasa berjalan. b. Subhat – keakraban dengan Allah, manusia serta ciptaan Allah lainnya. c. Tauhid – percaya penuh pada Allah SWT. d. Khusnul Khotimah – kematian yang baik lanjutannya. e. Ma’rifah – pengetahuan hakiki tentang Allah SWT. hal ini rupanya digunakan untuk menyebut peralihan menyeluruh dari peringkat (maqom) kepada keadaan (hal) karena pengetahuan ini dating dari Allah SWT kedalam hati sang sufi, menenangkan segala gerak-gerik hatinya. f. Mahabbah - cinta, suatu kensekwensi cinta Allah kepada manusia. g. Syauq – kerinduan untuk senantiasa bersama Allah SWT. Dari 7 point inti diatas, point 3, 6 dan 7 atau tauhid, Mahabbah dan Syauq memiliki makna yang sama. Jadi ke-7 inti tersebut sesungguhnya terdiri dari 5 point tujuan hati. Kelima inti tasawuf dar Imam Al-Ghazali tersebut kalau dihubungkan dengan Perintah Allah yang dibawa Rasulullah SAW yang 7 (tujuh) intinya, adalah hasil menjalankan 10 perintah Allah sesuai Al-Qur’an dan hadits hingga sempurna menjadi Insan Kamil sampai 20 sifat, yaitu : a. makrifat, b. isbatul Yaqin, c. sholat Sukma, d. ruku’ dan Sujud, e. antal Maut Qoblal Maut, f. sholat Da’lim, g. dzikir penutup. Tujuan inti tasawuf yang disampaikan oleh Imam Ghazali pada point a, b, f dan g, telah terangkum dalam pendekatan Riyadah Rasulullah point f. 2. EKSISTENSI TASAWUF DALAM ISLAM Tasawuf dan sufisme adalah satu cabang keilmuan dalam Islam atau secara keseluruhan ia adalah hasil Islam yang lahir kemudian setelah Rasulullah wafat. Ajaran Islam terdiri dari dua katagori : pertama yang berhubugan dengan dimensi ekstetorik (lahiriyah) dan yang kedua berkaitan dengan dimensi esetorik ( batiniyah ). Yang pertama berkaitan dengan aspek syari’at (dimensi lahiriyah atau outword), sedang yang kedua berkenaan dengan tasawuf (dimensi batiniyah atau inward). Tasawuf tidak bias dipraktikkan tanpa seseorang harus terlebih dahulu mempraktekkan ajaran-ajaran syari’at secara benar. Dilihat dari dimensi esoteric agama itu memiliki kesamaan. Karena dimensi esoteric yang dalam Islam disebut tasawuf mengajarkan perbuatan hati, seperti sabar, jujur, adil, dan semacamnya. Perbuatan hati ini bersifat universal melintasi batas-batas agama. Agama apapun pada dasarnya mengajarkan tasawuf sehingga tidak terasa adanya perbedaan antara satu agama dengan agama lain. Malah orang yang tidak beragama juga bias bersikap sabar, ikhlas, jujur dan sikap sufistik lainnya, sehingga dapat menjembatani antara orang yang beragama dengan orang tidak Bergama. Hanya saja bagi orang yang beragama sikap-sikap sufistik tadi mempunyai dasar dalam ajaran agama yang dianutnya. Karena itu, orang yang beragama seharusnya lebih sabar, lebih jujur, lebih adil, dan sebagainya dari pada orang yang tidak beragama. Namun kenyataannya orang yang Bergama tidak selalu lebih sabar, jujur dan adil dari pada orang yang Bergama. Ini mungkin karena orang yang beragama lebih mengutamakan dimensi ekssoteris dari pada dimensi esoterik agamanya. Akibatnya, orang lebih sering merasakan perbedaan dari pada persamaan antara satu agama dengan agama lain. Malah perbedaan agama mendorong orang-orang yang berbeda agamanya itu untuk salaing menghambat, menjatuhkan dan menghancurkan satu sama lain. Ajaran yang berasal dari ucapan Nabi Muhammad itu tentu benar, tetapi hadits itu tidak menyatakan bahwa shalat merupakan satu-satunya tiang agama. Artinya hadits itu tidak menafikkan dimensi esoteritis Islam. Hal ini terbukti dengan adanya ajaran Rasulullah yang meminta para pengikutnya untuk menganut sikap-sikap sufistik seperti sabar, ikhlas, jujur, adil dan semacamnya. Hanya saja tekanan untuk mengamalkan ajaran ini tidak sekuat dengan keharusan mengerjakan ibadah seperti shalat. Sebenarnya ibadah shalat memiliki dimensi esoteric, yaitu hikmahnya. Tetapi biasanya shalat lebih ditekankan dimensi eksoterisnya, yaitu syarat dan rukunnya, daripada dimensi esoterisnya. Karena itu orang perlu bertasawuf supaya tidak terpuas diri dengan dimensi eksetoris ibadah saja tidak cukup untuk mewujudakan Islam yang kaffah. Islam yang kaffah diwujudkan dengan menghayati dimensi esoteris ibadah dan pengamalan praktik tasawuf pada umumnya. Agama dapat menjadi factor integrasi dan disentegrasi social. Sedang tasawuf selalu menjadi factor integrasi. Sebab tasawuf menyentuh hati nurani manusia tanpa melihat perbedaan agama. Inilah antara lain perbedaan antara tasawuf dengan agama. Kemudian oaring yang taat beragama belum tentu bertasawuf. Misalnya banyak orang yang rajin beribadah, seperti mengerjakan sholat, berpuasa pada bulan rhamdhan, lalu naik haji, tetapi pribadinya tidak sabar, sederhana, jujur, adil dan semacamnya. Sebaliknya orang yang bertasawuf pasti beragama. Karena dalam Islam tasawuf adalah bagian dari agama. Yakni dimensi esoteris semata jelas tidak cukup. Begitu pula kalau hanya mengamalkan dimensi eksotoris. Tasawuf diperlukan untuk meneyeimbangkanan antara dimensi eksotoris dan dimensi esotoris dan hubungan vertical dengan hubungan horizontal. Selain untuk mengamalkan Islam secara kaffah juga untuk mengembangkan hidup beragama dan integrasi social. Untuk mencapai tujuan ini tentu saja nilai-nilai tasawuf tidak saja perlu diamalkan oleh umat Islam, tetapi juga kelompok-kelompok agama lain, sebab nilai-nilai tasawuf bersifat universal. Sikap sabar, ikhlas, jujur adil, toleran semacamnya dapat diamlkan oleh siapapun dan dari agama apapun. BAB III KESIMPULAN Dalam buku Dr. Mustafa Zahri tujuan tasawuf adalah “Fana”, untuk mencapai makrifatullah yaitu leburnya pribadi pada kebaqaan Allah dalam keadaan “Hulul” dimana perasaan keinsanan lenyap rasa ketuhanan dalam keadaan mana semua rahasia yang membatasi diri dengan Allah menjadi satu dalam baqanya bersatu Abid dan Ma’bud dimana seseorang telah sampai kepada apa yang dikatakan Fanaa, secara filosofis : fana ialah meniadakan diri supaya “ada”. Dengan jalan tasawuf, seorang dapat mengenal Tuhan dengan merasakan adanya, tidak sekedar mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Adapun tujuan terakhir tasawuf ialah Ma’rifat yaitu puncak dari segala-galanya. Yang pada tingkat mana saling dapat merasakan Tuhan untuk siapa dipersembahkan segala amal dan ibadah itu. Ma’rifat billah adalah melihat tuhan dengan hati mereka secara jelas dan nyata dengan segala kenikmatandan kebesaran-Nya., tapi tidak dengan kaifiat. Artinya Tuhan digambarkan seperti benda atau manusia ataupun yang lain dengan ketentuan bentuk dan rupa sebagai jawaban kaifa (bagaimana Dzat Tuhan itu?). jadi intinya ma’rifah adalah suatu pemberian tuhan pada hati yang bersih dan dapat menghilangkan tabir yang memisahkan antara makhluk dan khaliq. Ajaran Islam terdiri dari dua katagori : pertama yang berhubugan dengan dimensi ekstetorik (lahiriyah) dan yang kedua berkaitan dengan dimensi esetorik ( batiniyah ). Yang pertama berkaitan dengan aspek syari’at (dimensi lahiriyah atau outword), sedang yang kedua berkenaan dengan tasawuf (dimensi batiniyah atau inward). Tasawuf tidak bias dipraktikkan tanpa seseorang harus terlebih dahulu mempraktekkan ajaran-ajaran syari’at secara benar. Dilihat dari dimensi esoteric agama itu memiliki kesamaan. Karena dimensi esoteric yang dalam Islam disebut tasawuf mengajarkan perbuatan hati, seperti sabar, jujur, adil, dan semacamnya. Perbuatan hati ini bersifat universal melintasi batas-batas agama. DAFTAR PUSTAKA Maksum, Ali, Tasawuf sebagai pembebasan Manusia Modern (Surabaya : Pustaka Pelajar, 2003) Susmono , Susilawati, Mata Hati, (Jakarta : Citra Adhikarya Widyadhana, 2006) Tebba, Sudirmana, Etika dan Tasawuf Jawa ; untuk meraih ketenangan jiwa, (Jakarta: Pustaka Irvan, 2007) Tebba, Sudirman, Tasawuf Positif ; Manfaat Tasawuf dalam kehidupan sehari-hari (Jakarta : Pustaka Irvan, 2008) Thoriquddin , Moh, Sekularitas Tasawuf, (Malang : UIN-Malang, 2008) Zahri, Mustafa, Kunci memahami ilmu Tasawuf, (Surabaya : PT. Bina Ilmu. 1973)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar